Waktu kecil, saat itu aku duduk di bangku SD (SD Kontroliran), di Purworejo masih sepi, atau lebih tepatnya tidak seramai sekarang. Sedangkan waktu itu yang punya tv saja masih sangat sedikit; aku biasanya kalau nonton tv di depan otonom (sekarang gedung DPRD, info yg saya tahu). Dan saat itu tentu tv pun masih hitam putih.
Kegemaranku dihari libur (Minggu) adalah jalan-jalan bersama teman, main ke Kongsi. Kongsi waktu itu terletak di depan gedung bioskop Pusaka (Kalau tidak salah sekarang fungsinya sudah menjadi pasar). Pergi ke Kongsi dari rumah selalu jalan kaki. Jadi dari rumah (Pangenrejo) ke Kongsi, lewat Plaosan. Waktu itu jalan di Plaosan sepertinya masih terbuat dari tanah dan batu.
Di Kongsi hal yang membuat aku suka adalah melihat tukang obat, yang dengan berbagai atraksinya untuk menarik orang membeli obatnya. Penjual obat tersebut biasanya menggunakan corong (speaker Toa) supaya banyak orang yang mendengar. Saya tahan berjam-jam berjongkok di depan tukang obat tersebut.
Hal lain yang aku lakukan di Kongsi selain nonton tukang obat adalah baca komik ditempat, dengan cara membayar dulu. Waktu itu di Kongsi ada penyewaan komik namanya Ester. Komik yang aku baca ada silat karya Ganes TH, Teguh Santosa atau Yan Mintaraga. Atau romanya Zaldi, Floren maupun cerita-cerita Andersen. (Sepertinya dengan uang 15 rupiah sudah bisa banyak baca komik)
Biasanya kalau main ke Kongsi aku dari rumah berangkat pagi, pulang-pulang kalau sudah lapar (jam 14.00 wib). Karena kalau bawa uang juga tidak untuk beli makanan, karena bawa uangnya sangat minim (sedikit). Dulu di Kongsi banyak orang jualan Burung merpati. Biasanya sehabis main di Kongsi, aku pulangnya lewat jalan A. Yani, lewat depan toko-toko, sambil lihat-lihat barang yang dijual dari depan tokonya. Namanya anak kecil, hal seperti itu sudah menyenangkan.
kiriman: riwi soto, riwisoto.bc214@gmail.com
ditungu tulisan berikutnya pak.
[ SELENGKAPNYA ]
Selasa, 29 Juli 2008
Main Ke Kongsi
Diposting oleh
meds
di
22.35
4
komentar
Label: cerita
Senin, 28 Juli 2008
Sekolah Cari Sendiri.
Selesai sekolah SR, orang tua hanya bilang, "wis rono gen ndaftar nang SMP bareng kancane", Ketita itu saya mendaftar di SMP Marhaeni Wingko harjo. Setelah menemui teman yang akan masuk ke SMP tersebut, berbekal surat tanda tamat belajar, saya mendaftar di bagian tatausaha yang kantornya dirumahnya sang guru, dan langsung diterima, tidak melalui tes. Pulang lapor kepada orang tua bahwa saya sudah diterima diSMP tsb diatas, masuk sore. Karena jaraknya hanya sekitar satu KM, saya berangkat jam 11 siang. Pagi sebelum berangkat sekolah, biasa kalau musim sawah ya bantu orang tua disawah, sekitar jam sebilan pulang, makan, istirahat, jam 11 berangkat sekolah.
itu saya jalani selama 3 tahun, setelah selesai di SMP Marhaen, ndaftar lagi dengan teman ke SMEA kutoarjo. Kembali orang tua hanya mengarahkan supaya memilih sekolah yang sesuai. Ketika itu kan nggak tahu sekolah mana yang sesuai. Nyari teman lagi untuk ndaftar bersama. Selesai mendaftar, menunggu pengumuman, ternyata diterima di SMEA Negeri Kutoarjo. Alhamdullillah, semua dijalani sendiri, lapor lagi ke orang tua, bayarannya sekian......... . Kelas satu nglonjo, dari Wingko ke Kutoarjo, memasukki kelas 2 orang tua menyarankan supaya Cost supaya tidak capai. Itu dulu, semua dijalani dengan suka cita, tidak ada keluh kesah, orang tua tinggal terima hasil, dan menyediakan bayaran. Coba sekarang, dari mulai masuk SD, SMP, SMA orang tua harus ikut pusing. Takut tidak diterima disekolah yang dituju, siswa hanya bisa ndaftar disatu tempat, kalau satu gagal, ya sudah cari, sekolah swasta yang biayanya mahal. Memang tidak dapat dibanding2kan, jamannya memang begitu.
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Pursito
di
16.26
3
komentar
Label: cerita
Sabtu, 26 Juli 2008
Mencari Celah mengembangkan potensi.
Kab. Purworejo yang berbatasan dengan laut selatan belum termanfaatkan dengan optimal. Penduduk yang tinggal dipesisir selatan belum banyak yang dapat memanfaatkan laut yang mengandung berbagai tambang penghasilan. Yang paling nyata adalah nelayan, nelayan yang ada belum maju, saya tidak tahu apakah faktor ombak yang besar menjadi kendala.
Tetapi sesama pantai selatan, didaerah jawa Timur maupun jawa Barat banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai nelayan. Masalahnya juga barangkali kekurangan modal, ya terserahlah faktanya begitu. Selain hal tersebut diatas, bagi yang hidup sebagai petani, masih banyak yang mengkhususkan diri sebagai petani padi, yang masih banyak terikat dengan tradisi. Seharusnya sudah berani mengambil terobosan. Tahun 70an, daerah Wingko pernah ada yang sukses menanam jeruk, tapi sampai ditingkat itu, untuk kelanjutannya, berhenti lagi. Beberapa warga ada yang mencoba beternak ayam, satu dua ada yang bertahan sampai 20 tahun, dan sekarang sudah berhenti. Salah satu kendala yang dialami adalah pemasaran. Waktu kerja rata2 kebanyak warga petani masih rendah. Kalau musim sawah rata2 orang bekerja pagi jam 7 s/d jam 9 dan sore jam 2 s/d 5, berarti sehari 5 jam kerja. Sedangkan musim sawah dalam satu tahun paling hanya 4 bulan, 8 bulan lain merupakan waktu tunggu antara menunggu panen dan menunggu datangnya hujan. Kalau hasilnya dirasa masih rendah adalah wajar karena jam kerjanya rendah. Sebagai contoh, didaerah Purwokerto, kalau lagi kerja disawah jam 11 baru pulang, kadang2 jam 1 masih ada yang disawah, ini bisa dihitung berapa jam sehari. Untuk memajukan petani perlu ada penyuluhan bagaimana supaya petani berani mencoba berbagai jenis tanaman yang mungkin cocok ditanam didaerah purworejo selatan khususnya, yang sebagaian besar petani sawah basah. Para tokoh perlu diajak bicara, supaya idenya dapat dicerna oleh para warga petani. Mudah2 an ada yang memperhatikan.
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Pursito
di
10.14
0
komentar
Jumat, 25 Juli 2008
Pantai Jatimalang Andalan Wisata Purworejo
Pantai Jatimalang yang terletak di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jateng dan memiliki keindahan alam pantai dipadu dengan asrinya alam pegunungan dijadikan andalan objek wisata bagi kabupaten itu. Jalan menuju lokasi objek wisata ini cukup baik dan lebar serta beraspal sehingga memudahkan wisatawan untuk bersantai sambil menikmati indah, elok dan asrinya pemandangan alam pantai dan pegunungan di lokasi tersebut. lokasi objek wisata ini sekitar 18 km selatan kota Purworejo dengan luas areal sekitar 200 hektare.
Di sekitar pinggiran pantai ini telah dibangun gazebo oleh Pemkab Purworejo untuk tempat beristirahat para wisatawan yang mengjungi lokasi ini. Selain pemandangan alam pantainya indah, katanya, di objek wisata ini terdapat tambak udang galah dan Sungai Lereng yang bisa dimanfaatkan untuk berperahu lokal wisatawan.
“Kemudahan akses jalan beraspal hingga ke tepi pantai yang menyebabkan banyak wisatawan lokal mengunjungi objek wisata ini bagi bersantai ria bersama keluarga. Selain Pantai Jatimalang, objek wisata andalan Kabupaten Purworejo adalah Curug Muncar sekitar 45 km barat laut pusat kota Purworejo dan Goa Seplawan di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing.
“Curug Muncar atau air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 900 m. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke objek wisata ini harus sehat benar, sebab, jalan menuju ke lokasi tersebut menanjak cukup tinggi,
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Anonim
di
11.25
4
komentar
Label: wisata
Kamis, 24 Juli 2008
DAWET IRENG
Dawet Ireng adalah sejenis dawet (di Jawa Tengah)atau seperti cendol. Minuman ini asli dari daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Butiran dari dawet berwarna hitam, warna hitam dawet diperoleh dari abu bakar jerami, abu bakar jerami kemudian dicampur dengan air sehingga menghasilkan air berwarna hitam, air inilah yang digunakan sebagai pewarna dawet.
Dawet ini memiliki keunikan yaitu penyajian dawet yang biasanya jumlah dawetnya jauh lebih banyak dibanding airnya (santan ditambah air gula), sehingga dijamin setelah minum dawet ireng, perut akan terasa kenyang. Hal unik lainya, biasanya santan diperas langsung dari bungkusan serabut kelapa, jadi benar-benar segar rasanya.
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Anonim
di
10.57
2
komentar
Kesenian Purworejo, Kencrengan atau Rebana
Jika teringat purworejo aku jadi ingat akan kencreng atau rebana. yaaa karena musiknya yang sangat syarat akan unsur islamnya juga aku bisa melampiaskan napsuku untuk nggebuk plus ngeplak benda yang bulat terbuat dari kayu atos maning yang salah satu sisinya dikasih kulit biasanya sih kulit wedusss.
Di purworejo umumnya kencrengan rebana biasa buat ngiringi sholawatan. Selain sebagai iringan musik dalam sholawatan juga merupakan alat musik utama untuk mengiringi kesenian NDOLALAK, juga DZIKIR SAMAN. Mungkin kesenian dzikir saman masih asing ditelinga anda, kesenian ini adalah kesenian yang bernafaskan islam yang ada di desa Secang, Piyono,dan Seboro Pasar yang ada di kecamatan Ngombol.
..silakan dilanjut....
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Anonim
di
10.30
1 komentar
Anak Petani.
Sebagai anak petani, sejak kecil sudah dikenalkan dengan kehidupan disawah, kelas empat SR, angon kebo, berangkat jam 4 pagi, pulang jam tujuh baru berangkat sekolah. Sore jam tiga angon lagi pulang, jam setengah enam sore. Malam belajar dengan segala keterbatasan. itulah rutinitas waktu itu. Kelas lima SR, kerbau dijual, pagi jam enam macul kesawah, sekitar jam setengah delapan, kalau anak Ngentak sudah kelihatan berangkat, saya pulang berangkat sekolah. Sore hari jam dua ikut kesawah, pulang jam lima, rutin saya jalan sampai kelas enam. Ketika itu, badan saya dengan paculnya saja berat paculnya, jadi bisa dibayangkan, berapa banyak pekerjaan yang dapat saya selesaikan. mudah ditebak, pasti tidak banyak. Terus apa maunya orang tua ketika itu ?. Apakah sudah saya bisa mainan lumpur dengan puas?. saya yakin tidak, tapi ketika itu saya tidak tahu maksud dan tujuan orang tua. Yang aku tahu, bahwa pekerjaan orang tua, ya pekerjaan saya juga, kalau bapak bekerja, saya juga harus bekerja, tidak main.
Kini baru aku tahu, bahwa maksud Bapak saya dulu adalah bahwa supaya aku punya rasa tanggung jawab. Ketika itu Bapak sedang mendidik saya untuk latihan tanggung jawab. Karena saya sekarang tahu, berapa langkah yang berhasil saya pacul?, paling dua langkah. Selebihnya badan dan pakaian kotor. Setelah beranjak besar, tidak banyak anak-anak petani yang masih mau kesawah, bukan karena orang tua tidak menyuruh, tetapi anaknya sudah banyak yang tidak mau. Terus bagaimana, apakah bertani itu hanya untuk orang tua-tua, yang tenaganya sudah kurang. Bekerja dengan fisik pasti membutuhkan tenaga yang kuat, jadi bagi yang muda supaya lebih tekun bekerja, karena bertani dengan tekun pasti banyak hasilnya. Sekarang sudah ada traktor, pekerjaan makin mudah, banyak tenaga yang terhemat, alangkah baiknya kalau tenaga yang terhemat itu, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Mudah2an harapan bisa menjadi Kenyataan. Mas Sito
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Pursito
di
08.08
2
komentar
Label: cerita
Rabu, 23 Juli 2008
Turis mudik
Mudik setiap tahun sudah menjadi rutinitas, para perantau pulang kampung, bertemu dengan orang tua, sanak saudara dan handai tolan, baik yang menetap didesa maupun yang merantau, karena pada saat mudik bisa bertemu semuanya. Di lingkup kecil, ditingkat desa biasanya diadakan acara silaturahmi, yang mempertemukan antara warga yang tinggal didesa dengan yang merantau. Tidak diduga bahwa mudik itu juga diikuti dengan aliran dana ke daerah asal.
Ada hal yang menarik, Pemda Kab. Gunung kidul pernah membuat acara tertentu yang tujuannya untuk menghibur para pemudik, karena disadari kedatangan para pemudik juga mendatangkan pendapatan baru bagi daerah.
Hal ini menurut saya menarik untuk dicermati. Dengan membuat acara, para pemudik tidak perlu mencari hiburan ke daerah lain, dengan begitu, dapat menjadi daya tarik bagi pemudik. kita sering melihat kesenian daerah ditampilkan di TV rasanya senang, beberapa kali yang saya lihat adalah kesenian Jidur dari Karang Duwur, ternyata kalau dikemas dengan baik, juga mempunyai daya tarik. Secara umum kesenian daerah Purworejo belum begitu dikenal diluar Purworejo, bahkan saya sering menemui orang yang belum tahu letak kota Purworejo.
Makanan asli Purworejo sudah banyak dikenal, misalnya Krimpying dan Jenar, atau wajib dari mana????. Beberapa kali saya juga melihat tempat makan yang sudah masuk di TV. Kembali ke soal mudik, saat ini kalau lagi musim lebaran kemacetan mulai terasa di Kutoarjo atau Purworejo, hal ini wajar, karena banyak perantau yang mudik membawa mobil. Pepatah mengatakan setinggi2 kuntul terbang, turunnya kerawa juga. Mas Sito
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
Pursito
di
12.06
1 komentar
Label: cerita
Selasa, 22 Juli 2008
Warnet Pelosok & Firefox episode II

maaf tulisan ini saya hapus karena ada pihak yang keberatan.
[ SELENGKAPNYA ]
Diposting oleh
indrazz
di
17.12
0
komentar
Label: cerita
BLOGGER PURWOREJO
- -- Sumedi : Personal Blog --
- A'a Gigih Blog
- Agung Pranoto
- Agus Grabag
- Ajissi BS
- Alamovic Blog
- Alfiatun Jenar Lor
- Anak Putune KH. Artonawi Rasukan
- Aris Priyantoro : Pituruh
- Budhi Setyawan
- Dani Usadi
- dr. Indro Saswanto, Sp. THT
- Eddy Prasetyo
- Eko Ari on Wordpress
- Fajar Iskandar
- Gudang Lo-Ker
- Indra Cah Ngombol
- Iwan Sugihartono
- kakang's Mubarak Online
- kenapa Tanya
- Kholik on BlogDetik
- Kuznia Nazer
- Mas Lilik: Moslem-Corner
- Mas Paijan
- Mas Togog
- Mas Tri (Cah Nakal)
- Mbah Suro
- meenote
- meika : Just Call me Ika
- RAF : Start with Nothing
- Sadat: Menuju Jalan Yang Terang
- Setiyo Bardono : Sastrawan
- Wahyu Handoko
- Wayah Bagelen
- Wiwin Blog : goresan pena maya
- Yudi Blog
Blog Komunitas
- Alumni STAN
- Alumni Teknik Mesin USU
- Bawana SMK 1Pwr
- Blogger PWR on Wordpress
- Forum Giritontro
- Forum Purworejokita
- Friendster SMANDA KTA
- GAMAPURI - IPB
- Gema Pembebasan Unand
- Lafadl Pustaka Yogya
- Nasionalisme Institute
- PB PMII
- PBHR SULSEL
- PMII UGM
- Relawan Desa: Mbangun Desa
- SMP 3 Purworejo (SMP 1 KTA) Blog
- Urban Poor Lingkage: UPlink.or.id
- WebLog SMA Pundong Bantul
Milist Purworejo
- obatstresspwr@yahoogroups.com, alumni SMA I angkatan 94
- thorjo@yahoogroups.com, milis piyantun thorjo
