Sebagai anak petani, sejak kecil sudah dikenalkan dengan kehidupan disawah, kelas empat SR, angon kebo, berangkat jam 4 pagi, pulang jam tujuh baru berangkat sekolah. Sore jam tiga angon lagi pulang, jam setengah enam sore. Malam belajar dengan segala keterbatasan. itulah rutinitas waktu itu. Kelas lima SR, kerbau dijual, pagi jam enam macul kesawah, sekitar jam setengah delapan, kalau anak Ngentak sudah kelihatan berangkat, saya pulang berangkat sekolah. Sore hari jam dua ikut kesawah, pulang jam lima, rutin saya jalan sampai kelas enam. Ketika itu, badan saya dengan paculnya saja berat paculnya, jadi bisa dibayangkan, berapa banyak pekerjaan yang dapat saya selesaikan. mudah ditebak, pasti tidak banyak. Terus apa maunya orang tua ketika itu ?. Apakah sudah saya bisa mainan lumpur dengan puas?. saya yakin tidak, tapi ketika itu saya tidak tahu maksud dan tujuan orang tua. Yang aku tahu, bahwa pekerjaan orang tua, ya pekerjaan saya juga, kalau bapak bekerja, saya juga harus bekerja, tidak main.
Kini baru aku tahu, bahwa maksud Bapak saya dulu adalah bahwa supaya aku punya rasa tanggung jawab. Ketika itu Bapak sedang mendidik saya untuk latihan tanggung jawab. Karena saya sekarang tahu, berapa langkah yang berhasil saya pacul?, paling dua langkah. Selebihnya badan dan pakaian kotor. Setelah beranjak besar, tidak banyak anak-anak petani yang masih mau kesawah, bukan karena orang tua tidak menyuruh, tetapi anaknya sudah banyak yang tidak mau. Terus bagaimana, apakah bertani itu hanya untuk orang tua-tua, yang tenaganya sudah kurang. Bekerja dengan fisik pasti membutuhkan tenaga yang kuat, jadi bagi yang muda supaya lebih tekun bekerja, karena bertani dengan tekun pasti banyak hasilnya. Sekarang sudah ada traktor, pekerjaan makin mudah, banyak tenaga yang terhemat, alangkah baiknya kalau tenaga yang terhemat itu, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Mudah2an harapan bisa menjadi Kenyataan. Mas Sito
Dukung Sumedi pada Kontes SEO astaga.com lifestyle on the net | semoga juara I
Kamis, 24 Juli 2008
Anak Petani.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
BLOGGER PURWOREJO
- -- Sumedi : Personal Blog --
- A'a Gigih Blog
- Agung Pranoto
- Agus Grabag
- Ajissi BS
- Alamovic Blog
- Alfiatun Jenar Lor
- Anak Putune KH. Artonawi Rasukan
- Aris Priyantoro : Pituruh
- Budhi Setyawan
- Dani Usadi
- dr. Indro Saswanto, Sp. THT
- Eddy Prasetyo
- Eko Ari on Wordpress
- Fajar Iskandar
- Gudang Lo-Ker
- Indra Cah Ngombol
- Iwan Sugihartono
- kakang's Mubarak Online
- kenapa Tanya
- Kholik on BlogDetik
- Kuznia Nazer
- Mas Lilik: Moslem-Corner
- Mas Paijan
- Mas Togog
- Mas Tri (Cah Nakal)
- Mbah Suro
- meenote
- meika : Just Call me Ika
- RAF : Start with Nothing
- Sadat: Menuju Jalan Yang Terang
- Setiyo Bardono : Sastrawan
- Wahyu Handoko
- Wayah Bagelen
- Wiwin Blog : goresan pena maya
- Yudi Blog
Blog Komunitas
- Alumni STAN
- Alumni Teknik Mesin USU
- Bawana SMK 1Pwr
- Blogger PWR on Wordpress
- Forum Giritontro
- Forum Purworejokita
- Friendster SMANDA KTA
- GAMAPURI - IPB
- Gema Pembebasan Unand
- Lafadl Pustaka Yogya
- Nasionalisme Institute
- PB PMII
- PBHR SULSEL
- PMII UGM
- Relawan Desa: Mbangun Desa
- SMP 3 Purworejo (SMP 1 KTA) Blog
- Urban Poor Lingkage: UPlink.or.id
- WebLog SMA Pundong Bantul
Milist Purworejo
- obatstresspwr@yahoogroups.com, alumni SMA I angkatan 94
- thorjo@yahoogroups.com, milis piyantun thorjo
Membaca tulisan Anda, saya dapat mengenang masa-masa sekolah jaman dulu. Banyak teman-teman saya yang waktu sekolah dulu berasal dari daerah pinggir. Maksudnya, Cangkrep, Kaligesing, Banyuurip, Purwodadi, Loano dan sebagainya. Dinamika kehidupan seperti cerita Anda bagi saya adalah mengandung nilai-nilai kedalaman yang 'hidup'. Kehidupan masa lampau yang menarik kalau dikenang. Pergulatan hidup yang dinamis.
BalasHapusTentu sekarang jarang sekali dijumpai. Generasi sekarang budayanya sudah tergerus budaya massal yang dominan: Televisi. Perkembangan/perubahan budaya sangat cepat bergerak, sejalan dengan perubahan peta politik dan ekonomi. Tapi cerita yang Anda paparkan sangat menarik bagi mereka yang pernah bersinggungan dengan budaya seperti itu.
Mungkin kalau ada cerita-cerita 'pencerahan' seperti itu bisa sharing di sini. Tentu siapa saja.
Salam.
(Anak yang masa kecilnya sering klayaban di di kali bogowonto)
Mas sudutkreasi, cerita ini kisah nyata, waktu dijalani terasa pahit, tetapi sekarang terasa manis, karena baru tahu, begitulah orang tua kita mengajari kita untuk bertanggung jawab, tidak melulu dengan ajaran, tetapi dengan perilaku yang kongkrit, terima kasih.
BalasHapus