Dukung Sumedi pada Kontes SEO astaga.com lifestyle on the net | semoga juara I

BLOG INI TELAH DIPINDAH KE BLOGGERPURWOREJO.COM



Kamis, 10 Juli 2008

Pengalaman Masa Kecil, Membuat wayang dari Kardus

Pada th 60-an, saya duduk di bangku SR, salah satu kesukaanku membuat wayang dengan bahan kardus. Waktu itu di Wingko sangat sulit mencari Kardus. Setelah berembug dengan teman, diputuskan bahwa hari Kamis akan membeli kardus di Purwodadi. Nggak tahu bagaimana, dua temanku sudah berangkat duluan, saya ditinggal. Setelah tahu kalau temanku sudah berangkat, maka saya nekat berangkat, dengan jalan kaki, dari rumah saya kira-kira 10 KM, setelah sampai ngankruk, kecapaian mulai terasa, padahal perjalanan masih jauh.

Tidak berapa lama ada dokar lewat menuju Jenar, maka saya memberanikan diri untuk numpang, saya berterus terang karena uangnya pas untuk beli kardus. Kusir dokar, pesan nanti kalau sampai di Jenar minta diambilkan air untuk minum kuda, ketika itu saya iyakan saja. Setelah sampai, dan kusir dokar lagi ngobrol, saya menyelinap terus pergi menuju Purwodadi, sambil deg-degan langkahku makin ku percepat, takut kalau-kalau kusir dokar mengejar saya.

Di tengah perjalanan, ketemu dengan 2 temanku yang sudah membawa kardus, dengan segala iba saya minta temanku menemaniku "mbalik" lagi. Alhasil saya kehabisan kardus maka saya pulang bertiga jalan kaki. Itulah waktu, untuk suatu cita-cita betapapun beratnya saya jalani juga. Kalau dikenang masih terasa indah. Saya tidak tahu kalau anak sekarang ada yang mau jalan sampai 10 km hanya untuk membeli bahan mainan, sudah itu kehabisan pula.

Kiriman Pak sito
nyuwun pangapunten Pak Sito, nembe saged kepublish, keslesep. sak niki Pak Sito pun dados member.

3 komentar:

  1. Ditahun 60 an wayang memang digandrungi anak muda, apalagi kalau dalangnya Ki Hadi Sugito yang berasal dari Wates, Kulonprogo pokoke nonton sampai tancep kayon alias "ngebyar".
    Remaja saat itu banyak berkreasi membuat wayang bukan dari kardus saja, tetapi dari batang padi yang dianyam, juga batang daun singkong bahkan batang rumputpun bisa.
    Mari kita lestarikan kesenian wayang agar tidak tergeser oleh budaya barat! Semoga...

    BalasHapus
  2. bethoro indro16 Juli 2008 17.47

    Mas Pursito ini rupanya sehobby dengan saya.
    Waktu itu saya punya tiga puluhan wayang, sebagian beli sebagian bikin sendiri dari karton.
    Suatu hari lenyap bersama album perangko koleksi saya. Rupanya diambil maling yang nurut berita yg ngambil temen saya sendiri. Saya sangat sedih tentu saja, dan sampe sekarang jadi kenangan manis2 pahit.
    Salam buat mas Sito.

    BalasHapus
  3. Terima kasih mas Indro,
    Waktu itu hiburan belum banyak, kita ini anak2, dituntut unutk berkreasi sendiri supaya punya hiburan. Antara lain yaitu Wayang, Sampai sekarang saya masih sering mendengarkan diradio, yang saya suka yang masih ikut pakem, contoh dalang timbul.
    Salam katur mas Indro.

    BalasHapus

welcome to forum purworejo, please leave your comments; Komentar ini bebas untuk siapapun, tidak hanya yang punya account blogspot. Maturnuwun.

 

greeny::template design by: paradesain:: avaliable to download at:template.azimat.net
copyleft:blogger purworejo community 2008 - 2010 || supported by: free magazine subscription || contact us by email:satvica77@yahoo.com